Minggu, 01 Maret 2009

AGAMA DAN MASYARAKAT MODERN

AGAMA DAN MASYARAKAT MODERN
(Puritanisme, Sufisme, Tarekat, dan Modernisme)

Oleh : Hj. Ramlah M.

Abstrak
Telah menjadi Sunnatullah (ketentuan, bukti keMahabijaksanaan Allah), bahwa Islam dijadikan sebagai agama yang diredhai oleh Nya dan sesuai dengan fithrah (dasar kesucian manusia), mengandung nilai-nilai luhur dengan fokus utama untuk menempatkan umat Islam sebagai khaera ummah (umat terbaik);[1] di samping sebagai ummatan wasathan (umat yang memelihara keseimbangan, menguatamakan keadilan).[2]
Untuk menjadi umat terbaik, tentu diperlukan ketangguhan dan keampuhan dalam menapak perjalanan hidup baik berupa sikap mental dan persepsi maupun berupa pemahaman dan pengamalan terhadap ajaran agama Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh umat Islam terdahulu misalnya generasi Shahabat serta generasi berikutnya yang yang semuanya menerapkan ajaran Islam sebagaiman dicontohkan atau diajarkan langsung oleh Rasulullah Muhammad saw.
Karena memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara tepat menurut tuntunan Rasulullah saw., di masa klasik Islam itulah, umat Islam menjadi penguasa dunia dan Dunia Islam selama periode klasik (dari sekitar tahun 650 – 1250 M), menjadi Kiblat dalam di bidang peradaban dan kemajuan sains dan teknologi. Dalam periode Islam Klasik tersebut Eropa sedang berada dalam Zaman Pertengahan yang sedang mengalami keterbelakangan. Orang-orang dari Eropa, terutama para pengkaji dan kaum terpelajar dari Italia, Prancis, Inggris, dan lain-lain berdatangan ke Andalusia (Spanyol) untuk mempelajari sains dan filsafat yang berkembang dalam Islam.[3]
Sayang sekali bahwa sinar terang yang memancar sepanjang masa kejayaan Islam sebagaimana digambarkan di atas kemudian menjadi redup dan mengalami masa surut pasca kejatuhan kota Baghdad akibat penyerangan dari pasukan Hulagu Khan (cucu kaisar Jengis Khan) dari Mongolia. Masa kemunduran yang dialami dunia Islam dikenal dengan sebutan Periode Pertengahan yang berlangsung dari tahun 1250 hingga 1800 M. Di masa itu isu bahwa pintu ijtihad tertutup, semakin tersebar luas dan menguat di kalangan umat Islam, pengaruh tarekat semakin besar dan berkembang di dunia Islam, perhatian umat Islam terhadap pengembangan ilmu pengetahun sangat kurang. Bahkan umat Islam di Spanyol dipaksa memeluk agama Nasrani atau keluar dari wilayah tersebut.[4]
Kebangkitan kembali umat Islam mulai terwujud pada periode modern yaitu dari tahun 1800 hingga saat sekarang. Di periode inilah umat Islam dan dunia Islam mulai bersentuhan dengan gagasan-gagasan Pembaharuan dalam Islam.[5]
Dengan demikian hembusan angin kebangkitan umat Islam di era modern telah membawa kesegaran yang antara lain ditandai dengan terlepasnya negara-negara Islam yang tadinya berada dalam cengkerman kaum penjajah dari Barat (Eropa) yang rata-rata adalah kaum kafir (Nasrani) yang mengalami masa kegelapan ilmu dan peradaban dalam periode klasik Islam, di saat umat Islam ketika itu sedang berada di puncak kejayaan peradaban, penguasaan politik, dan kemajuan di bidang sains dan teknologi
Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kejayaan peradaban dan kemajuan ilmu, sains, serta perkembangan teknologi yang dialami umat Islam sepanjang periode klasik Islam tersebut adalah merupakan zaman keemasan bagi umat Islam. Dan keadaan tersebut sekaligus membuktikan bahwa uamt Islam adalah khaer ummah (umat terbaik) serta ummatan wasathan (berada pada posisi moderat, pertengahan, adil, serta menjadi contoh dalam hal kebaikan).[6]
Kejayaan itulah yang perlu dikembalikan oleh umat Islam di masa modern sekarang melalui upaya modernisasi dan langkah-langkah pembaharuan mulai dari sikap mental, pemahaman, dan penerapan ajaran Islam dalam berbagai bidang kegiatan; di mana pun, kapan pun, serta apa pun yang dihadapi. Dengan demikian Islam akan nampak sebagai Rahmatan lil’alamin (penabur tanda kasih dan sayang Allah swt terhadap seluruh isi jagat raya).

FUNGSI AGAMA DALAM MASYARAKAT MODERN
Agama, yang dalam bahasa Inggris disebut religion dan dalam bahasa Arab disebut din, secara sederhana mengandung makna: aturan, ketentuan, atau petunjuk yang wajib ditaati oleh pemeluknya demi mencapai kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan.
Khusus mengenai makna yang terkandung dalam sebutan din untuk menunjuk kepada arti ”agama”, jika dimaknai melaui pendekatan kajian semantik, dapat dipahami sebagai : berutang, dekat, maupun rendah. Hal itu ditemukan apabila ditelusuri kata-kata yang terbentuk melalui susunan huruf-huruf yang membentuk lafaz din tersebut yaitu masing-masing : d, y, dan n. Dari ketiga huruf tersebut terbentuk kata-kata : daen (hutang); danaa’ (dekat); dan dani` (rendah atau hina).[7] Ketiga makna tersebut ada dalam pemahaman dan penghayatan terhadap makna din al-Iskam (agama Islam). ”Berhutang”, mengandung penertian bahwa seseorang yang menganut agama menyadari bahwa keberadaannya dalam kehidupan tidak lain dari bukti kepemurahan Sang Pencipta Yang menjadikan, menghidupkan dan memeliharanya serta menunjukinya dalam kehidupan sehingga ia dapat mengetahui cara untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan. Karena adanya kesadaran tersebut, pemeluk agama merasa wajib bersyukur dengan jalan, antara melaksanakan ibadah ke pada Pencipta-Nya.
Lalu pengertian ”dekat”, ialah adanya kesadaran dari penganut agama tentang posisi kedekatan yang ia tempati di sisi kebesaran Tuhan (Pencipta)-Nya sehingga ia selalu optimis bahwa Tuhan Yang ia sembah itu tidak akan membiarkannya terlantar; selama ia memelihara ketaatan kepada-Nya. Sedang pengertian ”rendah” atau ”huna”, menunjuk kepada derajat ”tingkat bawah” jika dibandingkan dengan kemuliaan dan kesempurnaan yang dimiliki oleh Sang Pencipta Yang memberikan tuntunan melalui ajaran agama kepada hamba-hamba-Nya.
Singkatnya, dengan memahami serta mentaati tuntunan agama, menusia akan memenuhi fungsinya sebagai khalifah (wakil, pemegang mandat) Tuhan di bumi dengan misi utama sebagai pengabdi, pengatur, pengendali, sekaligus sebagai pendorong bagi terwujudnya kemakuran hidup bagi seluruh penghuni jagat raya. Dan itulah maksud kedatangan Rasulullah Muhammad saw menyampaikan agama Islam sebagai Rahmatan lil­-’alamin.
Di masa modern, yang ditandai dengan ketersediaan berbagai fasilitas hidup yang meungkinkan manusia, terutama yang mampu memanfaatkan kemajuan ilmu dan teknologi, untuk mencapai kebutuhan utamanya dengan mudah, agama tetap diperlukan. Bahkan sebaliknya, mengabaikan tuntunan agama dalam kehidupan modern, akan berakibat munculnya mala petaka bagi umat manusia secara meluas sebab manusia-manusia-manusia modern, yang tanpa bimbingan agama, akan bebas mengikuti kecenderungan nafsu serta keinginan mereka; sekalipun harus mengorbankan hak dan kepentingan pihak lain. Dan di sinilah letak penyebab timbulnya bencana bagi peradaban umat manusia sebagaimana mulai nampak sekarang terutama diakibatkan oleh penguasa produk teknologi canggih yang tidak taat terhadap nilai-nilai luhur dari ajaran agama yang diyakini sebagai tuntunan yang benar.
Sepanjang masa keberadaan umat manusia, baik sebelum dan di zaman klasik, zaman pertengahan, maupun di era modrn seperti sekarang, agama tetap dibutuhkan demi menjaga keselamatan penghuni jagat raya terutama manusia sebagai pelaku budaya. Paling tidak ada 7 (tujuh) nilai dasar yang diperjuangkan oleh agama – yang kesemuanya adalah merupakan misi utama ESQ Training yang digalakkan oleh ESQ Leadership Centre di bawah bimbingan Ary Ginanjar -- untuk diwujudkan dalam kehidupan modern sekarang dan ke depan agar tercipta harmonisasi dalam kehidupan. Ketujuh nilai dasar tersebut, masing-masing adalah : (1) Jujur ; (2) Tanggung jawab; (3) Visioner; (4) Disiplinn; (5) Kerjasama; (6) Adil; dan (7) Peduli.[8]
Agama harus diberi fungsi sebagai ”lembaga konsultasi” oleh pelaku budaya dengan jalan menempatkan agama sebagai suber petunjuk yang memiliki nilai-nilai universal dan agung karena ajarannya diyakini sebagai bersumber zat yang Maha Transenden.

BEBERAPA SIKAP KEBERAGAMAAN DALAM MASYARAKAT MODERN
A. Puritanisme
Term puritanisme (paham atau gerakan yang bertujuan untuk memurnikan ajaran agama dari perlakuan yang menyimpang baik dalam bidang keimanan, maupun dalam pelaksanaan ibadah). Pada awalnya gerakan ini dimunculkan oleh penganut agama Kristen Protestan di Inggris yang menolak sistem yang berlaku di kalangan pengikut gereja Roma Katholik di bidang-bidang upacara trsdisional, formalitas stelsel kekuasaan, dan juga organisasi kepemimpinan.[9]
Khusus dalam sejarah perjalanan dan perkembangan Islam, paham puritanisme mulai dikenal melalui gerakan pemurnian aqidah (keyakinan) yang dipelopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1703 – 1787) dari Nejed, Saudi Arabia. Beliau adalah pelanjut cita-cita dan ajaran pemurnian aqidah tawhid yang telah dirintis kedua pendahulunya yaitu Ibnu Taimiyah (w. 728 H./1328 M.) dan muridnya : Ibnu Qayyim al-Jawziy (751 H / 1350 H.).[10]
Menurut Abdul Wahhab, kemurnian paham tawhid umat Islam telah dirusak oleh ajaran-ajaran yang berasal dari luar; atau bukan berasal dari ajaran Islam itu sendiri. Contohnya, antara lain, pemujaan terhadap pimpinan tarekat, praktek mengkeramatkan kuburan orang-orang atau tokoh yang dianggap sebagai wali, mendatangi kuburan ”wali-wali” tersebut lalu meminta kepada penghuninya agar diberi jodoh, diberi anak, disembuhkan dari penyakit yang sedang diderita, bahkan ada yang meminta agar diberikan kekayaan.[11]
Gerakan purifikasi untuk memurnikan ajaran agama, termasuk dan teristimewa ajaran agama Islam memang merupakan sesuatu yang amat mendesak dan amat diperlukan di zaman modern sekarang, terutama dalam rangka upaya untuk mengembalikan ”milik” umat yang telah terlepas yaitu posisi sebagai umat terbaik. Sebab menurut bukti-bukti sejarah keterpurukan atau ketertinggalan yang dialami oleh umat Islam pasca periode klasik Islam, justeru banyak diakibatkan oleh kekeliruan umat Islam dalam memahami dan menerapkan ajaran agama mereka. Akibatnya, timbullah peraktek atau perlakuan dalam menjalani hidup keagamaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Sebagai contoh keyakinan dan perlakuan yang merusak citra Islam. Antara lain, pemahaman yang bernuansa takhayul, perlakuan bid’ah, dan peraktek-peraktek yang bersifat chuarafat yang tidak lain adalah penyimpangan dari ajaran Islam yang murni. Tidaklah mengherankan jika ketiga macam penyimpangan tersebut (yaitu takhayyul, bid’ah, dan churafat), diplesetkan menjadi penyakit tbc yang mengakibatkan umat Islam menderita penyakit parah sehingga mengalami kelemahan karena tubuh masyarakatnya telah lama digergoti oleh ”penyakit kronis” dan sangat berbahaya tersebut.
Umat Islam perlu disadarkan melalui langkah-langkah Purifikasi agar dunia Islam dapat lebih cepat bangkit kembali sebagaimana yang telah dialami oleh generasi umat terdahulu di masa keemasan yang berlangsung sepanjang periodi klasik Islam.
SUFISME DAN TAREKAT
1. Sufisme
Term sufisme, atau misticisme dalam Islam belumlah dikenal sejak awal kemunculan agama Islam yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad saw. Mengenai asal tasawuf, terdapat beberapa pendapat. Harun Nasution[12] mengemukakn 5 (lima) sumber yang dianggap oleh sementara kalangan pengkaji tentang asal usul tasawuf atau misticisme dalam Islam. Salah satunya ialah bahwa paham tersebut berasal dari filsafat Emanasi Plotinus yang memandang bahwa alam wujud ini memancar dari zat Tuhan Yang Maha Esa. Roh berasal dari Tuhan. Dengan masuknya roh ke alam materi , roh menjadi kotor, dan untuk kembali ke tempat asalnya harus melalui pensucian, yaitu dengan jalan meninggalkan dunia dan mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin bahkan kalau bisa, bersatu dengan Tuhan. Ajaran tentang Ittihad (menyatu) ini rupanya terpengaruh oleh filsafat Emanasi yang dikembangkan oleh Plotinus.
Menurut penulis, asumsi (dugaan) tentang asal usul tasawuf sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, tidaklah benar. Sebab dalam al-Qur`an sendiri terdapat ayat-ayat yang menjadi sumber ajaran tasawuf yang berciri keislaman. Misalnya ada ayat yang menyatakan bahwa manusia dekat sekali dengan Tuhan (Allah swt), dan menunjukkan tentang pola hidup kerohanian dalam Islam; antara lain :
a. Surah al-Baqarah (2) : 186 :16 :

186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.[13]

a. Surah Qaaf (50) :

016. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.[14]

Di samping kedua ayat di atas, ada pula hadis yang dijadikan sebagai sumber ajaran tasawuf dalam Islam. Antara lain ajakan untuk menjalani kehidupan zuhud sebagai salah satu ajaran tasawuf ; dan pada intinya menunjukkan adanya kesadaran tentang kedekatan hamba kepada allah swt. sebagai berikut :
- اِزْ هَدْ فِى الدُّنْيَا يُحبُّكَ اللهُ وَازْهَدْ فَيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ الله . (رواه إبن ماجه).
- كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّم يَرْكَبُ الْحِمَارَ رَ يَحْصِفُ النَّعْلَ رَ يَرْقَعُ الْقَمِيْصَ . (رواه إبن عَساكِر).[15]
Selain kedua ayat dan kedua hadis nabi yang dikemukakan di atas, yang mendorong timbulnya kehidupan sufi dalam Islam, Rasulullah saw pun telah mempraktekkan kehidupan kerohanian dalam model sufi (pengamalan tasawuf) yaitu bersamedi dalam gua Hira`. Hal itu merupakan cahaya pertama bagi kelahiran tasawuf dan itu pulalah yang merupakan benih pertama bagi kehidupan ruhaniah. Peri kehidupan Rasulullah Muhammad saw merupakan pola dasar dan gambaran lengkap bagi para sufi dalam hal pengamalan tasawuf.[16]
Melihat dasar yang menjadi pangkal lahirnya tasawuf atau Sufisme dalam Islam sebagaimana yang dikemukakan terdahulu, dapat disimpulkan bahwa praktek kehidupan dan pelaksanaan ibadah menurut ajaran tasawuf sebenarnya sangat positif sebab menunjukkan adanya kesadaran tentang keadaan yang amat dekat denganAllah swt di sampingkan menghindarkan pelaknya dari posisi “hamda dunia” atau “hamba materi” serta melahirkan jiwa yang bersih, tenang, dan selalu merasa ridha (senang) terhadap keadaan yang dialami.
Namun demikian terdapat pula penilaian yang negatif terhadap praktek kehidupan sufi dan menganggapnya sebagai salah satu bentuk penyimpangan dari inti ajaran Islam. Salah satu dari penilaian negatif terhadap Sufisme adalah sebaga berikut :
Tasawuf dinilai atau dikategorikan sebagai pemikiran infiltrasi yang beracun terhadap Islam.Tasawuf banyak berlandaskan kepada bid’ah. Bid’ah-bid’ah itu mereka jadikan sebagai bentuk berislam lalu mereka masukkan ke dalam Islam.
Selanjutnya dikatakan :
Sufisme juga menganggap bahwa guru-guru mereka cukup berkata kepada
sesuatu “jadilah” maka sesuatu tadi akan jadi.[17]
Menurut penulis, perlu dibedakan antara faham sufisme yang bersumber dari Islam (al-Qur`an dan Sunnah Rasul saw) dan sufisme yang mengadopsi ajaran-ajaran mistik dari luar Islam melalui berbagai tarekat sufi yang memang banyak berkembang di dunia Islam sejak periode pertengan Islam dan sekaligus menjadi penyebab bagi kemunduran umat Islam. Dengan demikian kita dapat terhindar dari jebakan sikap a priori dan secara gegabah dalam menggeneralisir sufisme sebagai penyimpangan dalam Islam.
2. Tarekat
Tarekat atau thariiiqah adalah jalan yang harus ditempuh seorang sufi dalam upaya untuk mencaai tujuan berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Dalam dalam perkembangannya menjadi suatu organisasi sufi,[18] yang melegalisir aktifitas kesufian.
Praktek sufi disistimatisir sedemikian rupa sehingga masing-masing thariqah mempunyai metode pendekatan kepada Allah swt yang berbeda satu sama lain. Di sisi lain, J. Spencer Trimigham menyatakan bahwa thariqah adalah suatu metode praktis untuk menuntun (membimbing) seorang sufi secara berencana dengan jalan pikiran , prasarana dan tindakan, terkendali terus kepada suatu rangkaian dari maqam untuk dapat merasakan hakikat yang sebenarnya.[19]
Dalam Thariqah atau Tarekat terdapat tiga unsur, yakni murid gur, dan ajaran. Guru adalah orang yang mempunyai otoritas dan legalitas kesufian, yang berhak mengawasi muridnya dalam setiap langkah dan geraknya sesuai dengan ajaran Islam. Dan oleh karenanya ia pasti memilki keistimewaan tertentu seperti bersih jiwanya. Dalam kaitan ini, Abu Bakar Atjeh mengutip isi buku Tanwir al-Qulub fi Mu’amalah A’lam al-Guyub bahwa seorang guru adalah seseorang yang telah mencapai maqam (posisi) Rijal al-Kamal manusia sempurna) yakni telah mencapai tingkat kesempurnaan dalam hal suluk, syari’ah dan hakikat nya, sesuai dengan ajaran Islamdan telah mendapat ijazah untuk mengajarkan suluk kepada orang lainpada tarekat,.[20] Sedang murid adalah orang yang menghendaki (menginginkan) petunjuk dalam amal ibadah.
Di samping segi-segi negatif yang ada juga segi-segi positifnya. Antara lain, dapat membimbing seseorang untuk berada sedekat mungkin dengan Allah swt, di samping memiliki al-Akhlaq al-Karimah serta tetap konsisten dengan syahadatnya. Meskipun dalam kadar yang relatif. Di kalangan angota-anggotanya terpupuk rasa solidaritas yang tinggi dan tolong menolong. Sikap kesederhanaan mewarnai kehidupan mereka sebagai perwujudan dari konsep zuhud (menjaui kemewaan hidup duniawi); meskipun kadang nampak berlebih-lebihan dalam penerapan bentuk hidup sederhana.
Dengan demikian kita perlu bersikap obyektif dalam menilai kehidupan sufi yang diterapkan oleh para pengamal ajaran tarekat agar kita tidak keliru dalam memberikan penilaian dan pada akhirnya merugikan umat Islam bahkan bisa merendahkan martabat agama Islam.

MODERNISASI
Secara umum, modernisasi dapat dimaknai sebagai meninggalkan cara-cara yang usang (lama) lalu beralih pada cara-cara dan pemakaian alat-alat baru sehingga dapat memnuhi tuntutan hidup yag sesuai dengan kemajuan dunia.[21]
Dalam masyarakat Barat “modernisme” mengandung arti pikiran, aliran, gerakan dan usaha-usaha untuk mengubah paham-paham dan adat-istiadat institusi-institusi lama dan lain sebagainya, agar semua itu menjadi sesuai dengan pendapat-pendapat dan keadan-keadaan baru yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Pikiran dan muncul antara tahun 1650 sampai tahun 1800 M. Suatu masa yang dikenal dalam sejarah Eropa sebagai The Age of Reason atau Enlightenment, yakni masa pemujaan akal.[22]
Jadi, modernisasi dalam Islam mengandung pengertia sebagai upaya-upaya atau langkah-langkah mengganti hal yang sudah dipandang usang (lama) dengan hal-hal yang baru dan sesuai dengan tuntutan zaman. Yang diganti itu antara lain berupa gagasan. Pemikiran, ide-ide, maupun perangkat-perangkat lainnya agar penerapan ajaran Islam, khususnya yang berkaitan dengan urusan sosial budaya atau mu’amaah, agar dapat memenuhi tuntutan dan kehendak zaman.
Singkatnya, bahwa yang harus dipermodern ialah pelaksanaan yang berkaitan dengan ajaran Islam yang bukan tergolong sebagai ajaran mutlak. Sedang yang dimaksud dengan ajaran mutlak tersebut ialah yang menyangkut aqidah (urusan keyakinan) dan juga yang menyangkut ibadah mahdhah (ibadah mutlak).
Islam sangat menghargai akal dan memberikannya kebebasan untuk mengelola kehidunpan dengan memanfaatkan akal sebagai sarana utama untk membongkar rahasia yang tersembunyi di balik fenomena alam ini selama tidak merobah ajaran mutlak dari tuntunan Islam.
Dengan demikian, modernisasi dalam Islam adalah suatu keharusan yang perlu segera di wujudkan, demi mengembalikan kejayaan Islam yang kini masih “hilang” dari tangan umat Islam.

IV. PENUTUP
Demikian makalah singkat dan amat sederhana yang sempat penulis kemukakan dalam esempatan ini. Penulis sangat mengharapkan sumbangan pikiran dan tambahan informasi sekaitan dengan maksud judul makalah ini. Terima kasih atas segala partisipasi dan buah pikiran yang positif – konstruktif dari teman-teman mitra sekelas dan sejurusan.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang setulus-tulusnya penulis sampaikan kepada Bapakp-bapak pemandu serta pembina matakuliah ini; wassalam.








































DAFTAR PUSTAKA




Al-Qur`an al-Karim.
Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Solo, Ramadhani, t. th..
Ary Ginanjar Agustian, The ESQ Way 165, Jakarta, ESQ Leadership Centre, 2007.
Dagobert D. Runes, Dictionary of Philosophy. 15th ed., New Jersey, Adams & Co., 1963.
Departemen Agama R.I., Al-Qur`an dan Terjemahnya, al-Madinah al-Munawwarah, Majma’ Raha Fahd untuk Penerbitan Mushaf al-Qur,an, t. th., h. Harun Nasution, Islam Rasional (Gaagasan dan Pemikiran), Bandung, Mizan, 2001.
-----------------, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973.
-----------------, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, II, Jakaarta, Bulan Bintang. 1995.
----------------, Pembaharuan dalam Islam , (Sejarah Pemikiran dan Gerakan), cet. ke 13, Jakarta, Bulan Bintang, 2001.
J. Spencer. Trimigham. The Sufi Orders in Islam, New York, Oxford University Press, 1971.
Laila binti Abdullah, Ancaman Sufisme terhadap Islam, Yogyakarta, Tajidu Press, 2002.
Louis Ma`luf, Al-Munjid fi al-A’lam , cet. 15, Beirut, al-Maktabah al-Kathulikiyyah, 1980.
J. Spencer. Trimigham. The Sufi Orders in Islam, New York, Oxford University Press, 1971.
Mas’ud Khasan Abdul Qohar, dkk, Kamus Istilah Pengetahuan Populer, t. t. p., Bintang Pelajar, t. th..
Proyek Pengembangan Perguruan Tinggi IAIN SU, Pengantar Ilmu Tasawuf, Medan, 1981.
Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah , vol. I, Jakarta, Lentera Hati, 2000.
-------------------, Membumikan Al-Qur`a, Jakarta, Lentera Hati, 1995.




[1]Al-Qur`an al-Karim, surah Ali ‘Imran (3) : 110.
[2]Ibid., surah al-Baqarah (2) : 143. Disebut juga sebagai umat moderat dan umat pilihan karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran ; baik di dunia maupun di akhirat. Lihat : Departemen Agama R.I. : Al-Qur`an dan Terjemahnya, Madinah, Lembaga Al-Haramain untuk Pencetakan dan Penerbitan Mushaf, t. th., h. 36.
[3]Harun Nasution, Islam Rasional (Gaagasan dan Pemikiran), Bandung, Mizan, 1995, h. 7.
[4]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam , (Sejarah Pemikiran dan Gerakan), cet. Ke 13, Jakarta, Bulan Bintang, 2001, h. 5-6.
[5]Ibid., h. 6.

[6]Quaraish Shihab dalam uraiannya tentang pengertia ummatan wasathan (umat pertengahan) yang tercantum dalam al-Qur`an, surah al-Baqarah (2) : 143 menjelaskan bahwa posisi pertengahan menjadikan manusia tidak memihak ke kiri dan ke kanan, dan menjadikannya berlaku adil. Dengan posisi itu, seseorang dapat dilihat dari berbagai penjuru, dan ketika itu ia dapat menjadi teladan bagi semua pihak. Dia pun dapat melihat siapa pun dan di mana pun. Lihat: Quraisy Shihab, Tafsir Al-Mishbah , vol. I, Jakarta, Lentera Hati, 2000, h. 324.
[7]Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur`a, Jakarta, Lentera Hati, 1995, h. 87.
[8]Ary Ginanjar Agustian, The ESQ Way 165, Jakarta, ESQ Leadership Centre, 2007, h. 19.
[9]Dagobert D. Runes, Dictionary of Philosophy. 15th ed., New Jersey, Adams & Co., 1963, h. 259.
[10]Louis Ma`luf, Al-Munjid fi al-A’lam , cet. 15, Beirut, al-Maktabah al-Kathulikiyyah, 1980, h. 9dan h. 13.
[11]Harun Nasution, Pembaharuan dalam Islam (Sejarah dan Gerakan), cet. Ke 13, (Jakarta, Bulan Bintang), 2001, h. 15.
[12]Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1973, h. 57.
[13]Departemen Agama R.I., Al-Qur`an dan Terjemahnya, al-Madinah al-Munawwarah, Majma’ Raha Fahd untuk Penerbitan Mushaf al-Qur,an, t. th., h.
[14]Ibid., h.




[15]Proyek Pengembangan Perguruan Tinggi IAIN SU, Pengantar Ilmu Tasawuf, Medan, 1981, h. 48.
[16]Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Solo, Ramadhani, t. th., h. 41.
[17]laila binti Abdullah, Ancaman Sufisme terhadap Islam, Yogyakarta, Tajidu Press, 2002, h. 16 ; 41.
[18]Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, II, Jakaarta, Bulan Bintang,h. 89.
[19]J. Spencer. Trimigham. The Sufi Orders in Islam, New York, Oxford University Press,1971, h. 4.
[20]Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat, Solo, Ramadhani, 1985, 79 – 84.










[21]Mas’ud Khasan Abdul Qohar, dkk, Kamus Istilah Pengetahuan Populer, t. t. p., Bintang Pelajar, t. th., h. 156.
[22]Harun Nasution, Islam Rasional, (Gagasan dan Pemikiran), Bandung, Mizan, 1995, h. 181.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar